Mengulas sejarah lengkap Prasasti Nalanda yang menjadi bukti hubungan erat antara Kerajaan Sriwijaya dan India pada abad ke-9. Simak isi prasasti, latar belakang, dan arti pentingnya bagi sejarah Nusantara.
Sejarah Prasasti Nalanda: Bukti Hubungan Erat Sriwijaya dengan Pusat Ilmu Pengetahuan Dunia
Pendahuluan
Ketika membahas kejayaan Kerajaan Sriwijaya, ingatan kita sering kali langsung tertuju pada armada lautnya yang perkasa dan dominasi maritimnya yang mutlak di kawasan Selat Malaka. Sriwijaya kerap digambarkan sebagai raksasa ekonomi kuno yang memonopoli jalur perdagangan rempah dan sutra antara dunia Barat dan Timur. Namun, di balik narasi kemegahan materi dan kekuatan militer tersebut, terdapat satu sisi humanis dan intelektual yang tidak kalah mengagumkan: reputasi Sriwijaya sebagai episentrum pendidikan, spiritualitas, dan kebudayaan agama Buddha yang paling dihormati di seantero Asia Tenggara.
Bukti paling otentik dan kuat mengenai pengakuan internasional terhadap kapasitas intelektual Sriwijaya justru ditemukan ribuan kilometer di luar batas wilayah geografis Indonesia hari ini, tepatnya di India. Artefak tersebut dikenal dalam panggung sejarah sebagai Prasasti Nalanda. Prasasti ini mengabadikan hubungan diplomatik, keagamaan, dan pendidikan tingkat tinggi yang terjalin erat antara dinasti penguasa Sriwijaya dengan Universitas Nalanda, pusat pembelajaran sains dan teologi Buddha terbesar di dunia pada zamannya.
Penemuan Prasasti Nalanda menjadi penegasan historis bahwa Sriwijaya bukan sekadar kerajaan pelaut yang mencari keuntungan dagang semata. Lebih dari itu, Sriwijaya adalah entitas politik yang sangat progresif dan aktif berinvestasi dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Prasasti ini memperlihatkan kepada dunia bahwa masyarakat Nusantara telah menjadi bagian integral dari jaringan pemikir dan intelektual global jauh sebelum lahirnya konsep negara-negara modern.
Apa Itu Prasasti Nalanda?
Prasasti Nalanda adalah sebuah lempengan tembaga berharga yang ditemukan dalam kegiatan ekskavasi arkeologis di kompleks biara Universitas Nalanda di wilayah Bihar, India Utara. Artefak monumental ini diperkirakan dibuat sekitar abad ke-9 Masehi (kurang lebih tahun 860 Masehi) pada masa keemasan pemerintahan Dinasti Pala di India.
Secara tekstual, prasasti ini dipahat menggunakan kombinasi aksara Dewanagari dan Pallawa akhir dengan bahasa Sanskerta yang sangat formal dan puitis. Struktur kalimatnya mencatat sebuah keputusan hukum penyerahan sebidang tanah dan hak istimewa oleh penguasa India saat itu, Raja Devapaladeva, atas permohonan resmi dari Raja Balaputradewa yang memimpin Kerajaan Sriwijaya. Bagi para sejarawan, temuan ini merupakan dokumen hukum diplomatik tertua yang membuktikan adanya hubungan bilateral lintas samudra antara Nusantara dan Asia Selatan.
Universitas Nalanda: Mercusuar Intelektual Dunia Kuno
Untuk memahami urgensi dari prasasti ini, kita perlu mengenal apa itu Nalanda pada abad ke-5 hingga ke-12 Masehi. Nalanda bukanlah sekadar sekolah asrama keagamaan biasa, melainkan sebuah universitas multikultural pertama dan terbesar di dunia kuno yang menampung lebih dari 10.000 mahasiswa dan 2.000 pengajar ulung.
Para pelajar dan biksu berbondong-bondong datang menyeberangi lautan dan mendaki pegunungan demi bisa menuntut ilmu di tempat ini. Mereka berasal dari berbagai penjuru dunia, seperti Tiongkok, Tibet, Korea, Jepang, Asia Tengah, Persia, hingga Sriwijaya. Di universitas ini, kurikulum yang diajarkan sangat luas dan komprehensif. Selain mendalami teologi dan filsafat Buddha (baik aliran Mahayana maupun Hinayana), para mahasiswa juga diwajibkan mempelajari ilmu sains sekuler, meliputi astronomi, kedokteran, tata bahasa (linguistik), logika formal, matematika, hingga seni sastra. Reputasinya yang luar biasa menjadikan Nalanda sebagai standar emas pendidikan tinggi dunia pada masa klasik.
Raja Balaputradewa: Visioner dari Sumatra
Tokoh sentral di balik lahirnya Prasasti Nalanda adalah Raja Balaputradewa. Beliau merupakan salah satu raja terbesar Kerajaan Sriwijaya yang memerintah pada abad ke-9 Masehi. Dalam silsilahnya, Balaputradewa memiliki darah keturunan Dinasti Syailendra dari Jawa (putra dari Raja Samaratungga) yang kemudian beralih takhta dan memimpin kemaharajaan maritim Sriwijaya yang berpusat di Sumatra.
Di bawah kepemimpinannya, Sriwijaya mengalami konsolidasi kekuatan yang luar biasa. Balaputradewa menyadari bahwa kelangsungan sebuah kemaharajaan tidak bisa hanya bersandar pada ketajaman pedang atau tumpukan emas di gudang istana. Ia mengambil langkah strategis dengan menjadikan pendidikan sebagai pilar utama kebijakan luar negerinya. Melalui diplomasi kebudayaan dengan Nalanda, Balaputradewa berhasil menaikkan status geopolitik Sriwijaya dari sekadar “kerajaan pedagang” menjadi “kerajaan pelindung iman dan ilmu pengetahuan.”
Analisis Isi Prasasti: Sebuah Diplomasi Multinasional
Isi teks Prasasti Nalanda secara mendetail menguraikan sebuah kerja sama internasional yang sangat rapi. Prasasti tersebut memaklumatkan bahwa Raja Balaputradewa dari Suwarnadwipa (Sumatra) telah mendirikan sebuah biara (vihara) megah di dalam kompleks Universitas Nalanda. Biara ini dibangun khusus sebagai tempat tinggal, tempat belajar, dan pelindung bagi para pelajar, biksu, dan sarjana yang datang dari wilayah kekuasaan Sriwijaya.
Akan tetapi, memelihara sebuah biara besar di luar negeri tentu membutuhkan biaya operasional yang tidak sedikit. Oleh karena itu, Balaputradewa mengirimkan utusan diplomatik untuk meminta kerelaan hati Raja Devapaladeva dari Dinasti Pala (penguasa lokal Nalanda) agar membebaskan pajak dan menghadiahkan lima buah desa di sekitar Nalanda. Seluruh hasil bumi, pajak, dan pendapatan dari kelima desa tersebut dihibahkan secara permanen sebagai dana abadi (endowment fund) untuk membiayai kebutuhan pangan, pakaian, obat-obatan, serta fasilitas tulis-menulis bagi para mahasiswa asal Sriwijaya yang sedang menuntut ilmu di sana. Raja Devapaladeva dengan penuh rasa hormat mengabulkan permintaan sahabatnya tersebut.
Konstruksi Jaringan Pendidikan Internasional Sriwijaya
Prasasti Nalanda menjadi bukti konkret bahwa mobilitas intelektual pemuda Nusantara ke luar negeri telah berjalan masif sejak seribu tahun yang lalu. Para biksu dan pelajar dari Sumatra, Jawa, dan pulau lainnya rela melakukan perjalanan laut yang berbahaya, menerjang ombak Teluk Benggala selama berbulan-bulan demi mengejar ilmu pengetahuan di India.
Sistem ini membentuk sebuah ekosistem pendidikan yang berkesinambungan. Setelah menyelesaikan studi intensif selama bertahun-tahun di Nalanda, para sarjana ini kembali ke Nusantara. Mereka membawa pulang salinan naskah-naskah kuno, pemikiran filsafat terbaru, dan keahlian sains untuk diajarkan kembali di Sriwijaya.
Catatan perjalanan biksu agung asal Tiongkok, I-Tsing, memperkuat realitas ini. I-Tsing yang sempat tinggal di Sriwijaya selama beberapa tahun mencatat bahwa ibu kota Sriwijaya (Palembang) dihuni oleh lebih dari seribu biksu asing yang belajar dengan standar kualitas yang sama tingginya dengan India. Bahkan, I-Tsing menyarankan para pelajar dari Tiongkok yang ingin pergi ke India untuk singgah dan belajar bahasa Sanskerta serta tata bahasa di Sriwijaya terlebih dahulu selama satu atau dua tahun sebelum melanjutkan perjalanan ke Nalanda.
Sinergi Jalur Maritim, Perdagangan, dan Kosmopolitanisme
Hubungan erat antara Sriwijaya dan Nalanda tidak mungkin tercipta tanpa adanya dukungan teknologi pelayaran yang superior. Kapal-kapal cadik besar milik Sriwijaya secara reguler mengarungi samudra, menghubungkan pelabuhan-pelabuhan di Selat Malaka dengan Teluk Benggala di India Timur.
Jalur maritim ini memiliki karakter ganda. Di satu sisi, ia adalah jalur ekonomi tempat mengalirnya komoditas berharga seperti lada, kemenyan, emas, tekstil, dan porselen. Di sisi lain, ia bertransformasi menjadi koridor budaya dan intelektual. Para saudagar, diplomat, seniman, dan agamawan saling berbagi ruang di atas geladak kapal yang sama. Dinamika ini melahirkan masyarakat Sriwijaya yang sangat kosmopolitan—sebuah masyarakat terbuka yang tidak gagap berinteraksi dengan kebudayaan asing, melainkan mampu mengadopsinya demi kemajuan domestik.
Arti Penting Prasasti Nalanda bagi Historiografi Indonesia
Bagi penulisan sejarah Indonesia, nilai penting Prasasti Nalanda sangatlah tak ternilai. Setidaknya ada lima urgensi utama dari prasasti ini:
-
Bukti Otentik Diplomasi Kuno: Menjadi dokumen hukum tertulis mengenai eksistensi hubungan diplomatik setara antara kerajaan di Nusantara dengan dinasti besar di Asia daratan.
-
Legitimasi Raja Balaputradewa: Mengonfirmasi asal-usul silsilah, kekuasaan, dan kebijakan makro dari Raja Balaputradewa.
-
Indikator Kesejahteraan Ekonomi: Kesanggupan mendirikan biara dan mendanai mahasiswa di luar negeri menunjukkan stabilitas finansial Sriwijaya yang luar biasa melimpah.
-
Koreksi Perspektif Sejarah: Mengubah pandangan dunia bahwa peradaban Nusantara kuno tidak hanya bersifat pasif menerima pengaruh India, melainkan aktif berkontribusi dalam dinamika kebudayaan India itu sendiri.
Relevansi dengan Indonesia Modern
Kisah yang terpahat di lempengan tembaga Nalanda ini memancarkan pesan yang sangat relevan dengan tantangan Indonesia di era globalisasi abad ke-21. Apa yang diinisiasi oleh Balaputradewa pada abad ke-9 esensinya adalah program “beasiswa luar negeri” dan “internasionalisasi pendidikan” pertama dalam sejarah bangsa ini.
Hal ini menjadi refleksi dan sumber inspirasi bagi tata kelola negara modern bahwa kemajuan, ketahanan, dan pengaruh geopolitik suatu bangsa di kancah internasional tidak ditentukan oleh seberapa besar agresi militernya, melainkan ditentukan oleh seberapa besar komitmen negara tersebut dalam berinvestasi pada pembangunan manusia, ilmu pengetahuan, dan diplomasi akademik.
Kesimpulan
Prasasti Nalanda merupakan salah satu peninggalan sejarah paling berharga yang membuka mata kita tentang arti sebuah kejayaan yang hakiki. Melalui catatan diplomatik mengenai pembangunan biara dan pengelolaan dana abadi di India, kita diingatkan bahwa Kerajaan Sriwijaya berhasil mencapai status sebagai kemaharajaan yang agung bukan hanya karena mereka menguasai lautan dan lalu lintas perdagangan ekonomi, melainkan karena mereka berhasil memosisikan diri sebagai pelindung dan pencinta ilmu pengetahuan.
Batu dan lempengan tembaga ini melampaui fungsinya sebagai artefak kuno yang bisu; ia adalah bukti otentik bahwa sejak seribu tahun yang lalu, bangsa Indonesia telah memiliki tradisi intelektual yang mendunia, berjiwa kosmopolitan, dan dihormati oleh pusat peradaban global. Memahami sejarah Prasasti Nalanda berarti menumbuhkan kembali rasa percaya diri nasional bahwa bangsa kita memiliki bakat alamiah sejak masa purba untuk menjadi pemain utama dalam panggung peradaban dunia.