Mengulas sejarah Hypogeum Ħal Saflieni di Malta, kompleks bawah tanah berusia lebih dari 5.000 tahun yang menjadi kuil, pemakaman, dan menyimpan fenomena akustik yang masih diteliti.
Hypogeum Ħal Saflieni: Kuil Bawah Tanah Berusia 5.000 Tahun yang Menyimpan Misteri Akustik
Pendahuluan
Di bawah permukaan Pulau Malta tersembunyi sebuah kompleks bawah tanah yang hingga kini masih membuat para arkeolog terpesona. Kompleks tersebut dikenal sebagai Hypogeum Ħal Saflieni, sebuah bangunan prasejarah yang diperkirakan telah dibangun antara tahun 4.000 hingga 2.500 SM. Usianya bahkan lebih tua daripada Stonehenge di Inggris maupun sebagian besar Piramida Mesir.
Tidak seperti gua alami, Hypogeum merupakan hasil pahatan manusia yang dibuat secara bertingkat jauh di bawah tanah. Lorong-lorong sempit menghubungkan puluhan ruangan dengan bentuk yang menyerupai kuil di permukaan. Di dalamnya ditemukan sisa-sisa ribuan kerangka manusia, berbagai artefak ritual, patung kecil, hingga dinding yang masih menyimpan jejak cat merah dari ribuan tahun lalu.
Yang membuat situs ini semakin terkenal adalah fenomena akustiknya. Salah satu ruangan menghasilkan gema dengan karakteristik unik yang mampu memperkuat suara manusia hingga terdengar menggema ke berbagai bagian kompleks. Fenomena tersebut memunculkan berbagai penelitian mengenai kemungkinan hubungan antara arsitektur, ritual keagamaan, dan pengalaman spiritual masyarakat prasejarah.
Kini, Hypogeum Ħal Saflieni diakui sebagai salah satu situs arkeologi paling penting di kawasan Mediterania dan menjadi bukti kecanggihan masyarakat prasejarah dalam merancang ruang bawah tanah.
Penemuan yang Terjadi Secara Tidak Sengaja
Menariknya, keberadaan Hypogeum tidak diketahui dunia hingga awal abad ke-20.
Pada tahun 1902, para pekerja yang sedang melakukan pembangunan rumah di kawasan Paola, Malta, secara tidak sengaja menemukan rongga besar di bawah tanah. Awalnya, rongga tersebut dianggap sebagai gua biasa sehingga sebagian bagiannya sempat tertutup kembali agar proyek pembangunan dapat dilanjutkan.
Namun setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, para arkeolog menyadari bahwa lorong-lorong tersebut bukan terbentuk secara alami. Dindingnya dipahat dengan sangat rapi, lengkap dengan pintu, ruang, dan langit-langit yang dibuat menyerupai bangunan di permukaan.
Penemuan ini segera menarik perhatian dunia karena belum pernah ditemukan kompleks bawah tanah prasejarah dengan ukuran dan tingkat kerumitan seperti itu.
Ekskavasi selama bertahun-tahun akhirnya mengungkap bahwa Hypogeum terdiri atas beberapa tingkat dengan puluhan ruangan yang saling terhubung.
Apa Arti Nama Hypogeum?
Kata hypogeum berasal dari bahasa Yunani, yaitu hypo yang berarti “di bawah” dan gaia atau ge yang berarti “tanah”. Secara harfiah, istilah ini dapat diterjemahkan sebagai bangunan bawah tanah.
Sementara itu, nama Ħal Saflieni diambil dari kawasan tempat kompleks tersebut ditemukan.
Meskipun istilah hypogeum digunakan untuk berbagai bangunan bawah tanah di dunia kuno, kompleks di Malta merupakan salah satu yang paling lengkap dan paling terpelihara.
Seluruh bangunan dipahat langsung pada batu kapur yang relatif lunak, memungkinkan masyarakat prasejarah membentuk lorong, ruangan, tangga, hingga ornamen dengan ketelitian tinggi.
Dibangun Tanpa Teknologi Modern
Salah satu pertanyaan terbesar mengenai Hypogeum adalah bagaimana masyarakat prasejarah mampu membangun kompleks sebesar itu tanpa peralatan logam.
Pada masa pembangunan Hypogeum, manusia di Malta masih berada pada tahap akhir zaman Neolitikum. Mereka belum mengenal besi maupun baja.
Para arkeolog memperkirakan proses pemahatan dilakukan menggunakan alat dari batu yang lebih keras, tanduk hewan, dan perkakas sederhana lainnya.
Pekerjaan tersebut tentu memerlukan waktu yang sangat lama. Setiap ruangan dipahat sedikit demi sedikit hingga membentuk tata ruang yang terencana.
Yang mengagumkan, beberapa bagian kompleks dibuat menyerupai arsitektur bangunan di atas tanah. Terdapat pintu palsu, lengkungan, pilar, hingga langit-langit melengkung yang seluruhnya dipahat dari batu asli.
Hal ini menunjukkan bahwa para pembangun memiliki konsep arsitektur yang matang serta kemampuan teknis yang jauh lebih tinggi daripada perkiraan sebelumnya.
Kompleks Tiga Tingkat di Bawah Tanah
Hypogeum terdiri atas tiga tingkat utama yang dibangun secara bertahap selama beberapa abad.
Tingkat pertama berada paling dekat dengan permukaan dan diduga merupakan bagian tertua. Ruangannya relatif sederhana dengan ukuran yang tidak terlalu besar.
Tingkat kedua merupakan bagian paling luas sekaligus paling rumit. Di sinilah ditemukan berbagai ruang upacara, lorong bercabang, ceruk penyimpanan, serta ruangan yang terkenal karena fenomena akustiknya.
Sementara itu, tingkat ketiga berada paling dalam, mencapai sekitar sebelas meter di bawah permukaan tanah. Ruangan pada tingkat ini memiliki akses yang lebih terbatas dan kemungkinan digunakan untuk tujuan khusus yang hingga kini masih diperdebatkan.
Secara keseluruhan, kompleks ini memiliki lebih dari tiga puluh ruangan dengan tata letak yang menunjukkan adanya perencanaan jangka panjang.