Di masa kini, media dianggap sebagai pilar keempat demokrasi. Namun, jauh sebelum istilah itu populer, tokoh-tokoh pers Indonesia sudah mempraktikkan semangat jurnalistik yang berani dan berpihak pada rakyat.
Melalui tulisan-tulisan tajam mereka, muncul gagasan tentang kebebasan, kemerdekaan, dan identitas bangsa yang menyalakan api perlawanan terhadap penjajahan.
Sejarah mencatat, pada awal abad ke-20, ketika kekuasaan kolonial masih membatasi ruang gerak rakyat, surat kabar menjadi alat paling ampuh untuk menyebarkan ide dan membentuk opini publik. Para tokoh pers kala itu bukan sekadar wartawan — mereka adalah pejuang intelektual yang menulis dengan keberanian dan idealisme tinggi.
1. Tirto Adhi Soerjo – Pelopor Jurnalisme Nasional
Nama Raden Mas Tirto Adhi Soerjo sering disebut sebagai bapak pers Indonesia. Ia adalah pendiri surat kabar Medan Prijaji pada tahun 1907, yang dikenal sebagai koran pertama milik dan ditujukan untuk kaum pribumi.
Dalam tulisannya, Tirto secara terbuka mengkritik kebijakan kolonial yang menindas rakyat, terutama dalam bidang ekonomi dan pendidikan.
Lebih dari sekadar jurnalis, Tirto adalah pemikir yang percaya bahwa pers dapat menjadi alat pembebasan bangsa.
Ia menulis dengan gaya yang lugas, kadang satir, tetapi penuh makna politik. Gagasan-gagasannya tentang kesetaraan dan pergerakan rakyat menginspirasi lahirnya organisasi Sarekat Islam dan pergerakan nasional lain yang datang kemudian.
Meski kerap ditekan dan dipenjara oleh pemerintah kolonial, Tirto tidak berhenti menulis. Ia menjadikan pena sebagai senjata, dan surat kabar sebagai medan perjuangan.
Namanya kini diabadikan dalam berbagai karya, termasuk novel “Bumi Manusia” karya Pramoedya Ananta Toer, yang menghidupkan kembali semangat jurnalistik pribumi yang berani.
2. Douwes Dekker (Danudirja Setiabudi) – Jurnalis, Nasionalis, Visioner
Tokoh berikutnya yang tak kalah penting adalah Ernest François Eugène Douwes Dekker, atau yang kemudian dikenal dengan nama Danudirja Setiabudi.
Ia adalah keturunan Indo-Eropa yang mencurahkan hidupnya untuk memperjuangkan kemerdekaan Hindia Belanda melalui tulisan dan politik.
Sebagai jurnalis, Douwes Dekker mendirikan surat kabar De Expres di Bandung pada tahun 1912. Dalam koran itu, ia menyerang sistem kolonial yang tidak adil dan menyerukan pembentukan pemerintahan sendiri.
Tulisan-tulisannya berani dan cerdas, menggabungkan kritik sosial dengan argumentasi politik yang kuat.
Bersama Ki Hajar Dewantara dan Tjipto Mangunkusumo, ia mendirikan Indische Partij, partai politik pertama yang secara terbuka menyerukan kemerdekaan.
Perannya di dunia pers tidak bisa dipisahkan dari perjuangan politiknya; baginya, menulis berarti melawan dan menyadarkan rakyat.
Douwes Dekker adalah contoh nyata bagaimana seorang jurnalis bisa menjadi penggerak ideologis bangsa — menjadikan media bukan sekadar alat informasi, tapi juga arena perjuangan intelektual.
3. Ki Hajar Dewantara – Pena yang Mendidik Bangsa
Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, nama Ki Hajar Dewantara identik dengan dunia pendidikan. Namun, sebelum mendirikan Taman Siswa, ia terlebih dahulu dikenal sebagai seorang jurnalis dan penulis tajam.
Tulisan-tulisannya di De Express dan Pewarta Hindia memuat kritik keras terhadap ketidakadilan kolonial.
Salah satu tulisannya yang paling terkenal, “Als ik eens Nederlander was” (Seandainya Aku Seorang Belanda), menggugah kesadaran banyak orang tentang standar ganda kebijakan kolonial.
Tulisan itu membuatnya diasingkan ke Belanda, tetapi justru di sana semangat nasionalismenya tumbuh semakin kuat.
Dalam pandangan Ki Hajar, jurnalisme bukan sekadar menyampaikan berita, tetapi juga alat pendidikan publik. Ia percaya bahwa rakyat perlu melek informasi agar mampu berpikir kritis terhadap penjajahan dan perubahan sosial.
Warisan pikirannya inilah yang membuatnya disebut sebagai pelopor jurnalisme edukatif di Indonesia.
4. Soewardi, Tjipto, dan Douwes Dekker: Trio Pena Revolusioner
Sering kali ketiganya disebut bersama sebagai “Tiga Serangkai” — tokoh-tokoh yang menggunakan pena untuk menginspirasi dan menggerakkan masyarakat.
Kolaborasi mereka di dunia pers memperlihatkan bahwa media dan politik dapat berjalan beriringan dalam perjuangan kemerdekaan.
Melalui surat kabar De Expres, mereka menyebarkan gagasan tentang kesetaraan, hak politik, dan nasionalisme yang terbuka bagi semua etnis di Hindia Belanda.
Inilah tonggak awal terbentuknya wacana kebangsaan yang inklusif, melampaui batas ras, agama, dan kelas sosial.
5. Rohana Kudus – Suara Perempuan dari Sumatera
Dalam sejarah pers Indonesia, nama Rohana Kudus patut disebut sebagai pionir. Ia adalah wartawati pertama Indonesia, pendiri surat kabar Soenting Melajoe di Padang pada tahun 1912.
Surat kabar ini tidak hanya ditulis oleh perempuan, tetapi juga ditujukan untuk pembaca perempuan — sebuah langkah luar biasa pada masanya.
Rohana menulis tentang pendidikan, peran perempuan dalam masyarakat, dan pentingnya kemandirian ekonomi.
Ia percaya bahwa kemerdekaan bangsa tidak akan tercapai tanpa kemerdekaan perempuan.
Melalui Soenting Melajoe, Rohana Kudus memperjuangkan hak belajar bagi perempuan, menentang pernikahan paksa, dan mendorong kesetaraan sosial.
Tulisan-tulisannya menjadi cerminan dari perjuangan ganda: melawan kolonialisme dan patriarki sekaligus.
6. Marco Kartodikromo – Jurnalis Pemberontak
Berbeda dari tokoh-tokoh lain yang menggunakan bahasa halus dan diplomatis, Marco Kartodikromo memilih jalur yang lebih keras dan provokatif.
Ia adalah jurnalis dan penulis yang lahir di Blora pada tahun 1890, dikenal karena keberaniannya menulis kritik sosial dalam bahasa Melayu yang sederhana dan mudah dipahami rakyat.
Marco mendirikan beberapa surat kabar seperti Saro Tomo dan Doenia Bergerak.
Dalam tulisannya, ia menyinggung langsung pejabat Belanda dan elite pribumi yang berkolaborasi dengan kolonial.
Gaya bahasanya yang berani membuatnya berkali-kali dipenjara, namun tidak pernah membuatnya berhenti menulis.
Baginya, pers adalah senjata perlawanan rakyat kecil. Ia menggunakan media untuk mengungkap ketimpangan sosial dan menumbuhkan kesadaran politik di kalangan masyarakat bawah.
Semangatnya yang radikal menjadikan Marco salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah pers pergerakan.
7. Pers dan Wacana Kebangsaan: Dari Kolonial ke Kemerdekaan
Melalui tulisan-tulisan mereka, tokoh-tokoh pers di atas membangun fondasi wacana kebangsaan Indonesia.
Mereka memperkenalkan istilah “tanah air”, “bangsa”, dan “kemerdekaan” jauh sebelum Indonesia resmi merdeka.
Surat kabar menjadi wadah tempat ide-ide besar lahir, diperdebatkan, dan disebarkan ke seluruh penjuru Nusantara.
Lebih dari sekadar alat komunikasi, pers berfungsi sebagai penggerak kesadaran nasional.
Tulisan-tulisan mereka menembus batas sensor, menyalakan semangat perlawanan, dan menghubungkan berbagai daerah di kepulauan Nusantara dalam satu visi: Indonesia yang merdeka dan berdaulat.
8. Warisan bagi Generasi Kini
Kini, di era digital dan kebebasan informasi, semangat para tokoh pers masa lalu tetap relevan.
Mereka mengajarkan bahwa kekuatan media bukan hanya untuk mencari sensasi, tetapi untuk mendidik, menyadarkan, dan memperjuangkan kebenaran.
Dalam konteks modern, jurnalisme yang beretika dan berintegritas menjadi bentuk baru dari perjuangan kebangsaan.
Menulis bukan sekadar pekerjaan, melainkan tanggung jawab moral untuk menjaga warisan nilai yang ditanamkan oleh para perintis pers Indonesia.
Kesimpulan
Perjalanan pers Indonesia tidak bisa dilepaskan dari perjuangan para tokoh yang menjadikan tulisan sebagai alat pembebasan.
Tirto Adhi Soerjo, Douwes Dekker, Ki Hajar Dewantara, Rohana Kudus, dan Marco Kartodikromo adalah bukti bahwa pena bisa lebih tajam daripada pedang.
Mereka tidak hanya menulis berita, tapi menulis sejarah — sejarah tentang keberanian, kesadaran, dan perjuangan membangun identitas bangsa.
Dari tulisan merekalah lahir wacana kebangsaan yang menginspirasi generasi demi generasi hingga hari ini.