Babad Besuki ditetapkan sebagai Ingatan Kolektif Nasional 2026. Naskah sejarah ini merekam perjalanan kawasan Besuki dan jejak terbentuknya sejarah Situbondo.
Babad Besuki: Naskah Sejarah yang Menyimpan Jejak Lahirnya Kawasan Besuki
Sebuah naskah lama tidak selalu harus berisi catatan mengenai kerajaan besar ataupun peristiwa peperangan yang megah untuk bisa memiliki arti penting bagi dunia sejarah. Kadang-kadang, justru catatan-catatan yang berfokus pada sebuah kawasan tertentu menjadi sumber yang sangat berharga untuk memahami bagaimana masyarakat, sistem pemerintahan, figur tokoh, serta sebuah wilayah dapat berkembang dari masa ke masa. Salah satu contoh nyata dari hal tersebut adalah Babad Besuki, yakni sebuah naskah sejarah tradisional yang merekam secara detail perjalanan sejarah kawasan Besuki di Provinsi Jawa Timur. Pada bulan September 2026 yang lalu, Babad Besuki berhasil mendapatkan perhatian secara nasional setelah pihak Perpustakaan Nasional Republik Indonesia menetapkannya secara resmi sebagai salah satu warisan Ingatan Kolektif Nasional atau yang disingkat menjadi IKON 2026. Keputusan penting tersebut direalisasikan bersama sepuluh warisan dokumenter nusantara lainnya melalui penerbitan Keputusan Kepala Perpusnas Nomor 154 Tahun 2026. Bagi lembaran sejarah lokal di Jawa Timur, penetapan ini memegang peranan yang sangat penting karena Babad Besuki mampu memperlihatkan secara nyata bahwa arsip-arsip daerah ternyata dapat diandalkan sebagai sumber utama untuk memahami perjalanan kehidupan masyarakat serta wilayah yang jauh lebih luas.
Babad Besuki sebagai Dokumen Sejarah Lokal
Babad Besuki merupakan sebuah naskah kuno yang secara khusus berkaitan erat dengan sejarah perkembangan kawasan Besuki. Di dalam catatan katalog naskah kuno wilayah Jawa Timur, Babad Besuki tercatat secara resmi sebagai naskah bergenre sejarah yang menceritakan perihal proses berdirinya Kota Besuki. Katalog perpustakaan tersebut mendokumentasikan keberadaan lebih dari satu versi atau salinan naskah Babad Besuki. Salah satu dari salinan tersebut diketahui memiliki tebal 118 halaman dengan ukuran fisik lembaran sekitar 29,5 dikalikan 21,5 sentimeter, sementara salinan naskah lainnya tercatat memiliki jumlah halaman sebanyak 63 lembar. Salah satu versi naskah yang berhasil didata tersebut menggunakan pengantar bahasa Jawa serta ditulis dengan menggunakan aksara Arab. Meskipun demikian, usia pasti dari pembuatan naskah-naskah tersebut hingga kini masih belum berhasil diidentifikasi secara mutlak di dalam katalog yang ada. Adanya data variasi ini menunjukkan bahwa sebuah naskah sejarah kuno tidak bijak jika dinilai semata-mata hanya berdasarkan faktor usianya saja. Kondisi fisik naskah, pilihan bahasa yang digunakan, jenis aksara, substansi isi, asal-usul muasal, hingga jejak perjalanan penyimpanannya juga merupakan bagian yang tidak terpisahkan dan sama pentingnya dalam sebuah penelitian arsip.
Merekam Perjalanan Kawasan Besuki
Salah satu letak nilai penting yang paling utama dari Babad Besuki berada pada kandungan informasi sejarah mengenai dinamika perjalanan kawasan Besuki itu sendiri. Naskah kuno tersebut berfungsi secara efektif sebagai sumber acuan penting untuk menelusuri berbagai figur tokoh penting serta bermacam-macam peristiwa bersejarah yang berkaitan langsung dengan proses pertumbuhan wilayah tersebut. Apabila ditarik ke dalam konteks lingkup sejarah lokal, informasi semacam ini ternyata memiliki fungsi yang sangat berbeda jika dibandingkan dengan dokumen administrasi pemerintahan modern. Sebuah babad biasanya memuat cara khas masyarakat pada masa lampau dalam memahami asal-usul suatu wilayah, figur tokoh panutan, sistem pemerintahan, hingga rangkaian peristiwa yang pada masa itu dianggap sangat penting bagi kelangsungan hidup mereka. Oleh karena karakteristik isinya tersebut, proses pembacaan dan penelaahan terhadap Babad Besuki menuntut tingkat kehati-hati yang sangat tinggi dari para peneliti. Isi substansi dari sebuah naskah sejarah tradisional tidak bisa secara otomatis diperlakukan dengan cara yang sama persis seperti laporan administratif modern ataupun dokumen kontemporer. Para peneliti profesional di bidangnya mutlak perlu membandingkan setiap informasi yang terkandung di dalam naskah tersebut dengan berbagai sumber referensi penunjang lainnya, agar mereka dapat membedakan secara jeli batasan antara catatan fakta sejarah murni, tradisi lisan, narasi lokal, maupun sisipan unsur-unsur sastra. Justru melalui proses perbandingan sumber-sumber inilah naskah seperti Babad Besuki menjadi semakin bernilai tinggi sebagai bahan kajian penelitian akademis.
Dari Arsip Daerah Menjadi Ingatan Kolektif Nasional
Tepat pada tanggal 18 Agustus 2026 yang lalu, pihak Perpusnas mencatat Babad Besuki sebagai salah satu dari total 14 naskah kuno nusantara yang diusulkan untuk menyandang status sebagai IKON 2026. Setelah melalui serangkaian proses penilaian yang ketat oleh tim Dewan Pakar yang kompeten, Babad Besuki akhirnya dinyatakan lolos dan masuk ke dalam daftar 11 usulan teratas yang mendapatkan rekomendasi resmi. Selanjutnya, pada tanggal 24 September 2026, pihak Perpusnas secara resmi menetapkan kesebelas warisan dokumenter tersebut sebagai IKON 2026. Babad Besuki berdiri sejajar bersama berbagai warisan dokumenter penting lainnya, seperti karya-karya monumental Syekh Abdus Somad al-Falimbani, naskah kuno Skriptorium Merapi-Merbabu, kumpulan karya K.H. Ahmad Rifa’i, naskah Syair Perang Siak, Lontara Pagatan, Sestra Ageng Adidarma, naskah Cerita Aji Saka, naskah Hukum-Hukum Pelayaran Amanna Gappa, naskah Sahakhi Bulan, serta bermacam-macam warisan dokumenter bernilai sejarah tinggi lainnya. Pemberian status resmi ini tentu bukan sekadar sebatas seremonial pemberian label baru kepada sebuah naskah kuno belaka. Pihak Perpusnas memberikan penjelasan bahwa setiap warisan dokumenter yang telah ditetapkan akan memperoleh jaminan perhatian khusus dalam hal upaya pelestarian fisik, pengembangan penelitian ilmiah, keterbukaan akses bagi publik, serta pemanfaatannya secara optimal sebagai sumber ilmu pengetahuan.
Mengapa Arsip Lokal Penting?
Perjalanan sejarah bangsa Indonesia pada dasarnya tersusun atas himpunan pengalaman hidup dari banyak kelompok masyarakat yang berada di tingkat lokal. Perlu disadari bahwa tidak semua bentuk pengalaman sejarah lokal tersebut tercatat secara rapi di dalam dokumen-dokumen resmi pemerintahan pusat. Kehadiran naskah-naskah tradisional seperti Babad Besuki mampu mengisi sebagian besar ruang kosong yang ada di dalam lembaran sejarah nasional tersebut. Melalui sarana dokumen lokal yang autentik, para peneliti sejarah dapat melihat secara langsung bagaimana cara pandang sebuah daerah dalam memahami lembaran masa lalunya. Berbagai unsur penting seperti penamaan tokoh, penyebutan lokasi tempat, rangkaian peristiwa masa lampau, pola hubungan interaksi antarkelompok masyarakat, hingga dinamika perubahan batas wilayah dapat menjadi petunjuk berharga yang kemudian bisa diuji dan dibandingkan kembali dengan sumber-sumber pembanding lainnya. Di dalam dunia metodologi penelitian sejarah, sangat jarang sekali ditemukan sebuah dokumen tunggal yang mampu berdiri sendiri tanpa dukungan sumber lain. Sebuah naskah babad idealnya dibaca secara terpadu bersama arsip-arsip pemerintahan kolonial maupun lokal, catatan perjalanan tokoh, kumpulan surat pribadi, peta-peta kuno wilayah, peninggalan artefak bangunan bersejarah, tradisi lisan masyarakat, maupun berbagai dokumen sezaman lainnya. Hanya melalui proses perbandingan dari beragam sumber yang komprehensif itulah gambaran rangkaian peristiwa sejarah yang jauh lebih utuh dan objektif dapat dibangun dengan baik. Dengan demikian, Babad Besuki tidak hanya menyimpan nilai guna yang penting bagi masyarakat lokal Besuki semata, melainkan juga bertransformasi menjadi bagian integral dari studi penelitian mengenai peta perkembangan sejarah regional Jawa Timur serta sejarah kawasan timur Pulau Jawa secara lebih luas.
Tantangan Melestarikan Naskah Lama
Merawat dan menjaga kelestarian naskah-naskah kuno tentu memerlukan penanganan khusus yang memiliki banyak perbedaan persoalan jika dibandingkan dengan pengelolaan jenis arsip-arsip modern. Lembaran kertas perkamen atau berbagai bahan media tulis tradisional sangat rentan mengalami kerusakan parah yang diakibatkan oleh faktor tingkat kelembapan udara, serangan serangga perusak kertas, fluktuasi perubahan suhu lingkungan, frekuensi penggunaan yang terlalu sering, maupun metode penyimpanan fisik yang dinilai kurang tepat. Di samping upaya keras untuk menyelamatkan kondisi fisik bendanya agar tidak hancur, substansi informasi isi yang terkandung di dalam naskah tersebut juga harus diupayakan agar dapat lebih mudah diakses dan diteliti oleh kalangan luas. Langkah digitalisasi dokumen hadir sebagai salah satu solusi taktis terbaik yang sangat membantu guna mengurangi tingkat ketergantungan terhadap penanganan fisik lembaran naskah secara terus-menerus. Pihak Perpusnas sendiri selalu menekankan prinsip bahwa program penetapan status IKON tidak boleh berhenti sekadar pada tataran pengakuan seremonial semata. Segala bentuk upaya pelestarian yang berkelanjutan, pelaksanaan riset mendalam, keterbukaan akses pemanfaatan, serta diseminasi pengetahuan yang tersimpan di dalam warisan dokumenter tersebut harus menjadi satu kesatuan tujuan utama dari program perlindungan arsip nasional. Penegasan semacam ini sangat krusial karena sebuah arsip berharga yang hanya disimpan rapat di dalam lemari tanpa pernah diteliti dan dibaca kembali akan memiliki risiko besar untuk kehilangan sebagian besar nilai informasi penting yang dikandungnya.
Besuki dalam Peta Sejarah Jawa Timur
Keputusan penetapan Babad Besuki sebagai warisan IKON secara otomatis juga memberikan kesempatan berharga bagi dunia akademis untuk meninjau kembali posisi strategis wilayah Besuki di dalam panggung sejarah regional Jawa Timur. Kawasan Besuki pada kenyataannya bukan sekadar nama sebuah wilayah administratif pemerintahan biasa seperti yang kita kenal pada masa kini. Wilayah tersebut menyimpan sebuah lintasan rentang sejarah masa lampau yang sangat panjang serta memiliki keterikatan yang erat dengan proses perkembangan dinamika masyarakat di daerah-daerah sekitarnya. Keberadaan Babad Besuki hadir sebagai salah satu sumber rujukan utama yang sangat diandalkan untuk membantu menelusuri kembali perjalanan sejarah pembentukan wilayah tersebut. Berdasarkan laporan kantor berita ANTARA yang dirilis pada tanggal 25 September 2026, Babad Besuki dipandang secara luas sebagai sebuah naskah penting yang berhasil merekam rekam jejak sejarah kawasan Besuki Raya secara komprehensif, termasuk di dalamnya mencakup catatan mengenai para tokoh penggerak serta rangkaian peristiwa penting yang membentuk arah perjalanan wilayah tersebut. Pemberian status pengakuan sebagai IKON nasional kemudian memberikan legitimasi pengakuan yang kuat secara resmi terhadap tingginya nilai dokumenter yang dimiliki oleh naskah tersebut. Melalui cara pandang ini, sejarah perkembangan Besuki tidak lagi hanya dapat dipelajari secara terbatas melalui sisa peninggalan bangunan kuno atau cerita-cerita rakyat yang dituturkan secara turun-temurun saja, sebab naskah manuskrip kuno kini telah menjelma menjadi pintu gerbang utama yang sangat efektif untuk membaca kembali jejak masa lalu.
Arsip yang Menghubungkan Masa Lalu dan Masa Kini
Salah satu hal yang paling menarik dari eksistensi Babad Besuki adalah kemampuannya yang luar biasa dalam menjembatani dua kebutuhan zaman yang berbeda sekaligus. Bagi kalangan masyarakat di masa lalu, penulisan naskah tersebut diniatkan sebagai media komunikasi dan pencatatan guna mengabadikan kisah-kisah mengenai wilayah serta tokoh-tokoh penting yang mereka agungkan. Sementara itu, bagi generasi masyarakat di masa kini, naskah kuno tersebut bertransformasi fungsi secara drastis menjadi sumber rujukan primer yang sangat diandalkan untuk melaksanakan berbagai kegiatan penelitian sejarah yang mendalam. Proses pergeseran fungsi kegunaan seperti inilah yang pada dasarnya mencirikan karakter hakiki dari sebuah arsip yang ideal. Sebuah dokumen masa lalu yang pada mulanya mungkin hanya dibuat dan dibaca secara terbatas oleh kalangan istana atau kelompok masyarakat tertentu saja, kini dapat diakses dan berubah wujud menjadi sumber pasokan ilmu pengetahuan yang terbuka luas bagi masyarakat umum ketika dokumen tersebut berhasil diselamatkan, dilestarikan dengan baik, dan dibuka lebar akses membacanya. Oleh sebab itu, rangkaian tindakan konservasi arsip tidak boleh diartikan secara sempit sebatas memperbaiki lembaran kertas naskah yang robek atau rusak saja, melainkan harus dipastikan pula bahwa kandungan informasi sejarah di dalamnya tetap terjaga kelestariannya sehingga dapat terus dipelajari oleh generasi penerus. Di dalam konteks wacana pelestarian arsip zaman ini, Babad Besuki memberikan contoh nyata tentang bagaimana sebuah dokumen kuno tunggal mampu bertindak sebagai jembatan penghubung yang kokoh antara sejarah lokal, dunia riset akademis, dan ingatan kolektif kebangsaan bangsa Indonesia.
Dari Besuki untuk Sejarah Indonesia
Keberhasilan penetapan Babad Besuki sebagai warisan IKON 2026 juga memberikan pesan telak bahwa khazanah warisan dokumenter Indonesia tidak melulu hanya bersumber dari kota-kota pusat kebudayaan besar yang selama ini sudah terlanjur sangat populer dikenal oleh masyarakat luas. Berbagai daerah di penjuru nusantara ternyata menyimpan kekayaan manuskrip, arsip surat-menyurat, catatan harian, hingga dokumen tradisional yang merekam secara otentik pengalaman hidup masyarakatnya masing-masing. Ketika ragam dokumen berharga dari berbagai daerah tersebut berhasil diidentifikasi dengan baik, dirawat secara profesional, diteliti dengan cermat, dan dibuka akses pemanfaatannya untuk publik, maka sejarah peradaban bangsa Indonesia secara otomatis dapat dibaca melalui perspektif sudut pandang yang jauh lebih kaya dan berwarna. Babad Besuki pada akhirnya muncul sebagai salah satu contoh empiris paling nyata bahwa sejarah perkembangan sebuah kawasan lokal ternyata mampu memancarkan nilai signifikansi yang luas ketika sumber-sumber dokumenternya dirawat dan dikelola dengan penuh tanggung jawab. Naskah kuno tersebut tentu tidak perlu diposisikan secara mutlak sebagai satu-satunya sumber tunggal yang paling benar dalam membedah sejarah Besuki. Nilai kegunaannya justru akan berkali-kali lipat lebih kuat apabila dipergunakan secara berdampingan bersama sumber-sumber sejarah lain guna membangun tradisi penelitian ilmiah yang kritis, objektif, dan berlapis.
Kesimpulan
Babad Besuki merupakan salah satu peninggalan warisan dokumenter nusantara yang sangat penting karena berhasil merekam secara otentik perjalanan sejarah pembentukan kawasan Besuki di Provinsi Jawa Timur. Catatan katalog naskah kuno Jawa Timur mendokumentasikannya sebagai sebuah naskah bertema sejarah yang menggunakan pengantar bahasa Jawa, serta menunjukkan adanya eksistensi beberapa salinan naskah dengan jumlah halaman serta karakteristik fisik penulisan yang bervariasi. Pada tanggal 24 September 2026 yang lalu, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia secara resmi menetapkan Babad Besuki ke dalam daftar Ingatan Kolektif Nasional (IKON) 2026. Penetapan formal tersebut berhasil menempatkan naskah kuno ini ke dalam pusat perhatian perlindungan nasional sebagai bagian dari aset warisan dokumenter yang mutlak harus dilestarikan fisiknya, diteliti secara mendalam, dibuka akses membacanya, serta dimanfaatkan secara optimal sebagai sumber ilmu pengetahuan. Bagi lembaran sejarah regional Jawa Timur, kehadiran Babad Besuki memberikan bukti nyata bahwa dokumen arsip lokal memegang kunci utama untuk memahami dinamika pertumbuhan sebuah wilayah. Berangkat dari lembaran-lembaran naskah kuno yang diwariskan oleh para leluhur, jejak peradaban kawasan Besuki akan dapat terus dibaca, dikaji melalui riset ilmiah, dan dihubungkan secara harmonis dengan bentangan sejarah nasional Indonesia yang jauh lebih luas.