Arsip 258 kotak Lisel Haas di Birmingham mengungkap ribuan foto, negatif kaca, surat, dan dokumen yang merekam kehidupan kota serta perjalanan seorang fotografer pengungsi.
258 Kotak Arsip Lisel Haas Dibuka: Jejak Fotografer Pengungsi yang Merekam Birmingham Selama Puluhan Tahun
Ada kalanya sebuah arsip tidak hanya menyimpan foto lama, tetapi juga menyimpan kehidupan seseorang secara hampir utuh. Hal tersebut terlihat dari koleksi Lisel Haas yang kini berada di Library of Birmingham, Inggris. Koleksi tersebut terdiri dari 258 kotak berisi foto, negatif, surat, dokumen bisnis, catatan, dan berbagai benda yang berkaitan dengan perjalanan panjang Haas sebagai fotografer.
Koleksi ini kembali mendapat perhatian pada 2026 melalui proyek Discovering Lisel Haas, sebuah pameran yang memperkenalkan sebagian isi arsip kepada publik. Menariknya, sebagian besar koleksi tersebut sebelumnya masih belum dikatalogkan secara menyeluruh. Artinya, masih terdapat banyak materi yang berpotensi mengungkap cerita baru mengenai kehidupan fotografer tersebut dan masyarakat yang pernah menjadi subjek kameranya.
Siapa Lisel Haas?
Lisel Haas lahir di Mönchengladbach, Jerman, pada 1898. Ia memulai karier fotografi pada dekade 1920-an dan kemudian mendirikan studio sendiri. Haas juga bekerja bersama Grete Bermbach, pasangan sekaligus rekan profesionalnya. Kehidupan mereka berubah ketika situasi politik di Jerman membuat keduanya meninggalkan negara tersebut. Pada 1938, Haas dan Bermbach kemudian menetap di Birmingham, Inggris. Di kota tersebut, Haas membangun kembali karier fotografinya dari awal.
Perjalanan ini membuat arsip Haas menjadi menarik bukan hanya dari sudut pandang sejarah fotografi semata. Koleksinya juga berkaitan erat dengan sejarah migrasi, kehidupan perempuan, perkembangan masyarakat Birmingham, serta pengalaman individu dalam membangun kembali kehidupan setelah terpaksa meninggalkan negara asal akibat tekanan politik yang melanda Eropa pada masa itu.
Isi 258 Kotak yang Menyimpan Banyak Cerita
Besarnya koleksi Lisel Haas menjadi salah satu aspek yang paling menarik perhatian para sejarawan dan kurator seni. Arsip tersebut terdiri dari sekitar 258 kotak dengan berbagai jenis material di dalamnya. Di dalam kotak-kotak tersebut terdapat cetakan foto, negatif seluloid, negatif kaca, surat-menyurat penting, catatan kuliah, faktur, indeks klien, program pertunjukan teater, peralatan retouching, hingga berbagai benda fisik lain yang berhubungan langsung dengan pekerjaan fotografinya sehari-hari.
Salah satu sumber menyebutkan bahwa terdapat sekitar 90 kotak berisi cetakan foto, 93 folder berisi negatif seluloid, 45 kotak berisi negatif kaca, serta sekitar 30 kotak yang memuat dokumen dan benda-benda lain. Angka yang fantastis tersebut menunjukkan bahwa koleksi Haas bukan sekadar kumpulan album foto keluarga, melainkan sebuah arsip profesional dan personal yang sangat besar dan komprehensif.
Bahkan, sebagian dari arsip tersebut hingga kini masih menyimpan berbagai pertanyaan yang belum terjawab secara tuntas. Sekitar 50 kotak di antaranya berisi negatif kaca dengan informasi konteks yang sangat terbatas. Beberapa foto dalam kotak tersebut menampilkan potret keluarga serta orang-orang yang berada di lingkungan privat Haas. Para peneliti dan sejarawan hingga kini masih berusaha memahami siapa pembuat sebagian gambar tersebut serta kapan tepatnya foto-foto itu dibuat.
Foto Teater Menjadi Rekaman Visual Birmingham
Salah satu bagian paling penting dari keseluruhan karya Haas adalah bidang fotografi teater. Selama lebih dari dua dekade penuh, Haas mendedikasikan waktunya untuk memotret berbagai produksi pementasan dan aktor di Birmingham Repertory Theatre. Foto-foto teater tersebut kemudian bertransformasi menjadi rekaman visual yang sangat berharga dalam membantu memperlihatkan dinamika dan perkembangan dunia teater di Birmingham pada pertengahan abad ke-20.
Beberapa tokoh terkemuka dan aktor terkenal yang pernah terekam dengan jelas melalui bidikan kameranya antara lain meliputi Paul Scofield, Albert Finney, Ian Richardson, serta Derek Jacobi. Bahkan, hingga saat ini sebagian dari karya foto bersejarah karya Haas masih terpajang dan ditampilkan di lingkungan gedung Birmingham Repertory Theatre sebagai bentuk penghormatan atas kontribusinya.
Bagi bidang sejarah fotografi, keberadaan foto pertunjukan semacam ini memiliki arti yang sangat krusial karena sifat dasar sebuah pementasan teater yang fana. Ketika sebuah masa pertunjukan berakhir, dekorasi panggung akan dibongkar, kostum-kostum akan disimpan kembali, dan pertunjukan yang sama persis tidak akan pernah bisa diulang dalam bentuk yang persis serupa. Foto kemudian hadir sebagai salah satu bukti otentik visual yang memungkinkan generasi masa depan untuk melihat bagaimana sebuah mahakarya pementasan pernah berlangsung di masa lampau.
Arsip Pribadi yang Berubah Menjadi Sumber Sejarah
Menariknya, kekuatan dan nilai dari koleksi Haas tidak hanya terletak pada deretan foto profesional yang indah semata. Ia ternyata juga telaten menyimpan berbagai dokumen pendukung yang memperlihatkan secara rinci bagaimana seorang fotografer perempuan menjalankan roda bisnis sehari-harinya di tengah masyarakat Inggris. Di dalam arsip tersebut terdapat faktur pembayaran, surat-surat korespondensi dengan para klien, catatan pekerjaan harian, dan berbagai dokumen administratif lain yang memperlihatkan aktivitas profesionalnya secara transparan.
Bagi para peneliti ekonomi dan sosial, material semacam ini mampu memberikan gambaran yang utuh mengenai ekosistem industri fotografi pada masa lampau. Sejarah fotografi ternyata tidak hanya terdiri dari keindahan kamera dan hasil cetak gambar saja, melainkan juga mencakup relasi profesional antara fotografer dengan klien, prosedur produksi, struktur biaya, masalah hak cipta, hingga strategi bertahan hidup sebuah studio independen dalam mempertahankan bisnis mereka di tengah persaingan zaman.
Koleksi tersebut bahkan memperlihatkan dengan jelas bahwa Haas dengan cermat menyimpan salinan faktur serta surat-surat yang berkaitan langsung dengan pembayaran hak cipta karya fotografinya. Detail-detail kecil dan administratif seperti inilah yang pada akhirnya mampu memberikan jendela pandang yang luas mengenai aspek ekonomi dari profesi fotografi di sepanjang abad ke-20.
Mengapa Arsip yang Belum Lengkap Justru Menarik?
Dalam ranah penelitian sejarah yang mendalam, arsip yang belum sepenuhnya dipahami dan diidentifikasi sering kali justru menjadi sumber utama penemuan dan pertanyaan-pertanyaan baru yang menyita perhatian. Koleksi milik Haas ini sebagian besar masih berada dalam tahap proses katalogisasi yang panjang. Dengan kondisi tersebut, para peneliti tentu belum sepenuhnya mengetahui seluruh identitas orang-orang yang wajahnya terekam dalam foto, tanggal pasti pembuatan dari sebagian gambar, maupun konteks naratif dari semua negatif film yang tersimpan rapat.
Hal tersebut sekaligus memperlihatkan kepada khalayak umum bahwa pekerjaan digitalisasi dan katalogisasi arsip bukanlah sekadar aktivitas administratif yang membosankan. Ketika sebuah lembar foto berhasil diberi informasi lengkap mengenai tanggal pengambilan, lokasi spesifik, identitas fotografer, subjek yang dipotret, serta konteks pembuatannya, nilai akademis dan penelitian dari foto tersebut akan meningkat secara signifikan.
Sebaliknya, sebuah karya foto yang hadir tanpa adanya informasi pendukung yang memadai akan tetap menjadi sebuah teka-teki sejarah yang menantang. Dalam kasus arsip Haas ini, para peneliti bahkan sempat menemukan petunjuk bahwa beberapa negatif kaca yang tersimpan mungkin memiliki keterkaitan erat dengan sosok Grete Bermbach. Namun, berbagai dugaan awal tersebut tentu belum sepenuhnya terbukti secara mutlak dan masih membutuhkan proses investigasi serta penelitian lanjutan yang lebih mendalam di masa depan.
Dari Kotak Arsip Menjadi Pameran Publik
Memasuki tahun 2026, sebagian dari koleksi berharga peninggalan Haas akhirnya diperkenalkan secara luas ke tengah masyarakat melalui sebuah pameran publik bertajuk Discovering Lisel Haas yang diselenggarakan di Library of Birmingham. Pameran akbar tersebut dijadwalkan berlangsung dari tanggal 27 Juli hingga 12 Desember 2026. Melalui pameran ini, masyarakat dapat menyaksikan langsung warisan visual yang ditinggalkan oleh sang fotografer pengungsi tersebut.
Pameran ini dirancang tidak sekadar menampilkan karya-karya fotografi masa lalu dari Haas, tetapi juga menghadirkan ruang bagi respons kreatif dari sejumlah seniman kontemporer masa kini. Melalui pendekatan kuratorial tersebut, arsip-arsip lama tidak ditempatkan sekadar sebagai benda mati peninggalan masa lalu yang usang, melainkan dihidupkan kembali sebagai materi dinamis yang masih sangat relevan untuk dibaca, direnungkan, dan ditafsirkan oleh masyarakat modern saat ini.
Proyek besar tersebut juga mendapatkan dukungan penuh dari program pelestarian Archives Revealed yang dikelola oleh The National Archives serta berbagai lembaga pendukung kebudayaan penting lainnya di tingkat nasional. Salah satu misi dan tujuan utama dari pelaksanaan program ini adalah membantu mempercepat proses katalogisasi menyeluruh terhadap seluruh koleksi Lisel Haas sehingga berbagai materi berharga yang sebelumnya sulit diakses dan ditelusuri kini dapat menjadi jauh lebih mudah dimanfaatkan untuk kepentingan penelitian akademis maupun dunia pendidikan publik.
Ketika Foto Lama Menjadi Memori Kota
Kisah perjalanan hidup dan karya Lisel Haas membuktikan secara nyata bahwa sebuah foto lama memiliki fungsi sosial dan historis yang jauh lebih luas daripada sekadar alat dokumentasi visual belaka. Sebuah lembar foto teater dapat bertransformasi menjadi sumber sejarah pementasan seni yang valid. Sebuah foto keluarga yang sederhana mampu memperlihatkan perubahan gaya hidup masyarakat lintas generasi. Kumpulan negatif kaca yang tersimpan rapi dapat memberikan informasi berharga mengenai evolusi teknologi fotografi dari masa ke masa. Sementara itu, arsip berupa surat-surat pribadi dan faktur bisnis dapat menjelaskan secara rinci cara seorang pekerja kreatif bertahan hidup dan menjalankan profesinya.
Ketika seluruh elemen arsip yang beragam tersebut disimpan dan dikelola secara bersama-sama, maka akan terbentuklah sebuah jaringan informasi sejarah yang jauh lebih kaya, utuh, dan bermakna. Di dalam kerangka pemahaman sejarah Kota Birmingham, karya-karya fotografi yang dihasilkan oleh Haas telah menjelma menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari memori visual kolektif kota tersebut. Ia tidak hanya mengabadikan potret wajah orang-orang terkenal atau kaum elit semata, melainkan juga merekam kehidupan masyarakat biasa, kehangatan keluarga, kemeriahan pementasan teater, sudut-sudut lingkungan perkotaan, hingga ritme denyut kehidupan sehari-hari masyarakat biasa.
Hal inilah yang pada akhirnya membuat sebuah arsip fotografi memiliki nilai ketahanan jangka panjang yang luar biasa tinggi. Apa yang pada saat proses pemotretannya dilakukan mungkin hanya dianggap sebagai rutinitas pekerjaan komersial biasa, ternyata setelah berjalan puluhan tahun kemudian mampu bermutasi menjadi sumber sejarah yang sangat bernilai tinggi bagi peradaban manusia.
Kesimpulan Akhir Perjalanan Arsip Lisel Haas
Keseluruhan arsip peninggalan Lisel Haas yang tersimpan di Library of Birmingham memberikan teladan yang jelas tentang bagaimana himpunan 258 kotak material fotografi dapat merangkum dan menyimpan jutaan cerita tentang kehidupan pribadi seseorang, dinamika sebuah kota industri, perkembangan dunia kreatif, gelombang migrasi manusia, hingga pasang surut kehidupan masyarakat selama puluhan tahun lamanya. Di dalam kotak-kotak tersebut tersimpan rapi jejak berupa cetakan foto, negatif kaca tua, surat-surat pribadi, dokumen bisnis, hingga berbagai perkakas kerja yang membantu merekonstruksi ulang babak-babak penting perjalanan hidup seorang fotografer perempuan tangguh yang harus membangun kembali karier gemilangnya dari titik nol setelah terpaksa meninggalkan tanah kelahiran di Jerman.
Hal yang membuat koleksi ini terus memancarkan daya tarik tersendiri adalah kenyataan bahwa sebagian besar dari materinya masih berada dalam koridor proses penelitian lanjutan dan katalogisasi yang belum sepenuhnya rampung. Dengan demikian, arsip sejarah ini bukanlah sebuah narasi masa lalu yang sudah selesai dituliskan. Setiap lembar negatif film, baris kalimat dalam surat tua, atau cetakan foto yang berhasil diidentifikasi ulang oleh para ahli selalu berpotensi membuka lembaran babak baru dari lembar sejarah yang sempat hilang.
Kisah inspiratif dari Lisel Haas ini sekaligus kembali mengingatkan kepada kita semua bahwa arsip sejarah yang agung tidak selalu harus hadir dalam bentuk dokumen resmi pemerintahan yang kaku atau naskah kuno kerajaan yang megah. Lembaran foto sederhana yang dibiarkan tersimpan di dalam kotak kardus selama puluhan tahun pun ternyata mampu menjadi jendela penjelajahan yang sangat vital untuk memahami kompleksitas kehidupan masyarakat di masa lampau.